Panduan
Cara menghitung untung warung yang sebenarnya.
Hampir semua pemilik warung menghitung untung dengan cara yang sama: jualan hari ini dikurangi belanja hari ini. Cara itu salah, dan salahnya selalu ke arah yang sama — untung terlihat lebih kecil dari kenyataan pada hari belanja besar, dan lebih besar dari kenyataan pada hari tidak belanja.
CARA YANG BIASA
Senin
Selasa
Dua hari yang mirip, untung beda dua kali lipat?
Kenapa selisih belanja dan jualan bukan untung.
Karena belanja hari Senin bukan cuma untuk Senin. Sebagian bahan yang dibeli Senin masih ada di kulkas Selasa — dan dipakai Selasa. Jadi Senin “membayar” biaya yang sebenarnya milik Selasa, dan Selasa terlihat untung besar padahal ia memakai bahan yang sudah dibayar kemarin.
Yang menentukan untung bukan berapa yang dibelanjakan, tapi berapa yang terpakai. Dua angka itu hanya sama kalau Anda menghabiskan seluruh belanjaan di hari yang sama — dan itu hampir tidak pernah terjadi.
Rumus yang benar, tiga baris.
Modal terpakai = stok awal hari + belanja hari ini − stok akhir hari.
Untung kotor = jualan − modal terpakai.
Untung bersih = untung kotor − biaya hari itu yang bukan bahan: gas, listrik, plastik, upah, sewa dibagi hari.
Di contoh Senin tadi: dari belanja Rp450.000, ternyata Rp180.000 masih tersisa di kulkas saat tutup toko. Jadi modal yang terpakai Senin cuma Rp270.000, dan untung kotornya Rp510.000 — bukan Rp330.000. Selasa, sebaliknya, memakai Rp180.000 bahan sisa itu, jadi untung Selasa lebih kecil dari yang terlihat.
CARA YANG BENAR
Senin
Rp180.000 di kulkas itu stok besok, bukan biaya hari ini.
Tiga biaya yang paling sering terlupa.
Gas, listrik, plastik.
Kecil per porsi, tapi tidak nol. Satu tabung gas 3 kg untuk tiga hari berarti sekitar Rp7.000 per hari yang harus ikut dikurangkan — bukan dianggap “sudah ada”.
Upah diri sendiri.
Kalau Anda tidak menggaji diri sendiri, warung terlihat untung padahal Anda yang mensubsidinya. Tetapkan angka wajar per hari dan masukkan sebagai biaya. Untung yang tersisa sesudah itu baru untung warungnya.
Sewa dan alat, dibagi hari.
Sewa Rp1.500.000 sebulan = Rp50.000 sehari. Kompor Rp600.000 yang tahan dua tahun = sekitar Rp800 sehari. Kecil, tapi dua tahun lagi kompornya rusak dan uangnya harus sudah ada.
Yang berat bukan rumusnya — tapi mengisinya setiap hari.
Rumus di atas bisa dihitung di buku tulis. Yang membuat orang berhenti adalah menghitung stok akhir setiap malam, lalu mengalikan tiap bahan dengan harganya. Itu pekerjaan yang menyebalkan, dan setelah tiga hari biasanya berhenti.
Rafanto Kasir mengerjakan bagian itu untuk Anda: begitu resepnya diisi sekali saja, tiap porsi terjual otomatis mengurangi bahannya. Stok akhir dan modal terpakai dihitung sendiri, dan saat tutup toko Anda melihat untung sebenarnya — bukan selisih belanja dan jualan.